Selasa, 16 Maret 2010

SEJARAH SINGKAT
PAROKI KRISTUS RAJA UNGARAN


Awal Kekatolikan

Awal kekatolikan di Ungaran tidak lepas dari kehadiran keturunan Indo dan Tionghoa di daerah Ungaran. Mereka merupakan pengelola perkebunan di lereng dan lembah gunung Ungaran. Waktu itu, Ungaran terkenal dengan perkebunan pala dan kopi yang subur. Daerah yang paling subur terletak di Sibligo Ungaran Barat. Selain pekerjaan yang menuntut perhatian semakin besar, udara yang sejuk mendorong mereka membangun rumah di Ungaran sebagai tempat tinggal. Jejaknya dapat dilihat lewat peninggalannya berupa gedung-gedung. Misalnya Gedung Kuning atau Benteng Willem II. Benteng Willem II ini pernah menjadi tempat untuk menahan Pangeran Diponegoro. Di Sibligo juga masih terdapat bangunan Belanda bekas tempat tinggal.

Dari antara orang Indo dan Tionghoa itu, ada yang beragama katolik. Mereka menjadi orang-orang katolik pertama di Ungaran. Penduduk pribumi asli Ungaran yang katolik dapat dikatakan hampir tidak ada. Penduduk pribumi yang menjadi katolik pada umumnya adalah pendatang yang kemudian minta dipermandikan. Penduduk pribumi ini datang ke Ungaran untuk bekerja di perkebunan atau menjadi penjaga vila. Sebagai orang Katolik, baik Indo, Tionghoa maupun pribumi, mereka cukup aktif dalam kegiatan paguyuban murid-murid Kristus. Mereka aktif mengadakan pertemuan-pertemuan untuk berdoa atau mengembangkan imannya. Romo-romo yang mendampingi mereka berasal dari Ambarawa.

Salah satu perintis kekatolikan di Ungaran yang tidak dapat dilupakan adalah Mevrow de Jong. Menurut banyak kesaksian, Mevrow de Jong amat berjasa bagi perkembangan gereja Ungaran. Ia membangun rumah doa di pekarangannya sendiri agar umat katolik dapat berkumpul untuk merayakan misteri kudus Gereja, mengadakan pendalaman iman, atau pertemuan-pertemuan yang lain. Rumah doa ini menjadi pengikat paguyuban mereka. Lokasi rumah doa ini berada di lokasi gereja yang sekarang. Dahulu daerah di sekitar gereja masih sangat sepi dan jalannya sempit.

Dalam perjalanan waktu, jumlah umat semakin bertambah. Perkembangan ini membawa konsekuensi perlunya tempat ibadah yang memadai. Dalam proses mencari lokasi tempat ibadah, Mevrow de Jong menyerahkan rumah doa berserta tanahnya kepada Gereja lewat Romo Verhoeven SJ agar dipakai untuk gereja. Suatu anugerah yang luar biasa. Pembangunan gereja pun segera dimulai. Peletakan batu pertama dilaksanakan oleh Romo J. Van Rijkevorsel SJ, pastor paroki Ambarawa, pada tanggal 22 Januari 1933. Pembangunan gereja ini dapat dikatakan amat bernilai monumental sebab pembangunan ini merupakan tonggak sejarah bertumbuhnya Paroki Ungaran secara nyata. Pembangunan pun terus berjalan. Sambil menyelesaikan bangunan, umat merenungkan nama gerejanya. Setelah melalui pencarian yang panjang, romo beserta umat memutuskan memberi nama gerejanya Kristus Raja. Perjuangan umat yang tetap gigih dalam kesulitan karena cintanya pada gereja dan suburnya daerah Ungaran pada waktu itu, merupakan latar belakang yang cukup dominan bagi pemilihan nama tersebut. Dengan cita-cita itu, sesuai dengan panggilan dan perutusan dari Tuhan Yesus Kristus, umat Ungaran ingin menjadi Gereja yang mewartakan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah tiada lain adalah suasana subur, syalom, damai sejahtera. Dan untuk itu semua dibutuhkan kegigihan berjuang atas dasar cinta pada panggilan dan perutusan Tuhan. Umat ingin mengikuti Yesus Kristus selurus-lurusnya. Hidup dan karya Yesus menjadi model hidup dan karya umat Ungaran. Maka sekali lagi mulai saat itu dan seterusnya gereja baru itu diberi nama Kristus Raja.

Kendati sudah mempunyai gereja sendiri, karena situasi yang sulit pada waktu itu, pelayanan romo dari Paroki Ambarawa sangat terbatas. Perayaan Ekaristi di Ungaran dilaksanakan hanya pada Minggu Pertama dan Ketiga. Agar gereja tetap terawat dan selalu siap dipakai, perawatan gereja diserahkan kepada keluarga Mevrow Duran. Kendati demikian benih iman yang telah ditaburkan oleh Tuhan di Ungaran tidak pernah mati. Bahkan, Gereja Ungaran semakin bertumbuh dan berkembang. Semakin lama jumlah umat semakin bertambah. Status Gereja Kristus Raja Ungaran pun ditingkatkan menjadi Stasi. Sebagai stasi, Gereja Kristus Raja Ungaran dipercaya untuk mengelola buku baptis sendiri. Baptisan pertama yang tercatat di stasi Kristus Raja Ungaran adalah baptisan Rebecca Charmi, anak dari Resawidjaja dan Lasima oleh Romo Th. C. Verhoeven SJ pada tanggal 20 Agustus 1933. Selain itu, sejak adanya gereja tersebut Stasi Kristus Raja Ungaran dipercaya mendampingi anak stasi yaitu Gereja Girisonta. Kelak dalam perjalanan waktu, stasi Girisonta menjadi Paroki Girisonta.

Berdasarkan catatan yang ada, imam yang pernah bertugas di Stasi Kristus Raja Ungaran semenjak pembangunan gereja namun sebelum penjajahan Jepang adalah Romo Th. C. Verhoeven SJ, Romo P. Schmedding SJ, Romo J. Hellings SJ, Romo Th. Poespasoeparta SJ (1938), Romo A. Adikardjana SJ (1939), Romo Pollmann SJ dan Romo Ch. de Meneder SJ (1940). Romo-romo inilah yang boleh dikatakan mengawali pelayanan iman di Ungaran. Dari antara mereka, ada yang bertugas penuh tapi ada juga yang hanya melayani sebulan sekali.

Dari Stasi menjadi Paroki

Waktu pun berjalan namun kesulitan tidak pernah lepas dari umat Ungaran, bahkan kadang kesulitan itu terasa tak tertanggungkan lagi. Sepuluh tahun kemudian Stasi Ungaran menderita. Kurang lebih selama 7 tahun, dari tahun 1942 sampai dengan 1949, Stasi Ungaran berada dalam keadaan bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Semenjak pendudukan Jepang sampai dengan clash II, umat Stasi Ungaran terlantar. Lebih-lebih dari tahun 1945 sampai dengan 1949, pelayanan iman para romo untuk Stasi Ungaran sama sekali kosong. Banyak romo Belanda dipenjara atau pulang ke negerinya karena alasan keamanan. Dan beberapa meninggal dunia karena terbunuh.

Setelah situasi aman, mulai tahun 1949 dengan tekun para romo mulai melayani kembali umat Ungaran. Mereka adalah Romo Ign. Haryadi Pr (1949), Romo L. Koersen SJ (1951), Romo C. Harsasoewito SJ (1952), Rm. E. Djajaatmadja SJ (1954), Rama H. Haripranata SJ (1956). Kehadiran para gembala ini mengobarkan api semangat umat Stasi Ungaran untuk kembali menjadi orang katolik yang tangguh. Umat mulai bangkit kembali mewartakan Kristus dengan tidak takut. Kebangkitan iman umat Katolik Ungaran ini ditandai dengan adanya baptisan massal pada tanggal 1 November 1956. Kurang lebih 100 umat dewasa dibaptis menjadi katolik.

Sejak tahun 1949 itu pula mulai dirintis pengurus gereja atau stasi. Pengurus ini bertugas memikirkan dan melaksanakan karya pastoral umat katolik di Ungaran. Salah satu keprihatinan pastoral yang dialami umat dan disadari oleh pengurus adalah terlantarnya pendidikan anak-anak pribumi. Atas dasar usulan umat dan pengurus gereja, dirintislah sekolah dasar bagi anak-anak pribumi. Pada tahun 1953 didirikan SD Kanisius Genuk. Sampai sekarang SD ini dengan tekun melayani pendidikan bagi masyarakat dari berbagai macam latar belakang. Pada tanggal 29 Juli 1953 disusul berdirinya SMP Kanisius Jungring Saloka. SMP ini meminjam tempat di rumah Bp. Ngadilan. Dan dalam perjalanan waktu, mengingat jumlah murid yang semakin banyak, SMP dipindahkan ke belakang gereja, dengan nama SMP Kanisius Suralaya. Namun dalam perjalanan waktu, SMP ini tidak mampu menghadapi tantangan zaman. Jumlah murid semakin merosot, dan akhirnya ditutup pada tanggal 29 Juni 1999. Empat tahun sebelum ditutup, tepatnya tanggal 17 Juli 1995 pihak pengelola telah mendirikan SMK Kanisius sebagai penggantinya.

Setiap kali menelusuri jejak sejarah hidup dan perjuangannya, Gereja Ungaran tidak dapat melupakan kehadiran Lembaga Hidup Bakti tingkat Keuskupan, yaitu Tarekat Suster-suster Abdi Kristus (AK). Semula tarekat ini bernama Abdi Dalem Sang Kristus (ADSK), namun dalam perjalanan waktu sesuai dengan tuntutan zaman nama tarekat diubah menjadi Abdi Kristus (AK). Semula Terekat ini mondhok di Susteran OSF Ambarawa. Mengingat anggota dan karya semakin berkembang, tarekat memandang pentingnya memiliki rumah sendiri yang memadai. Pencarian lokasi pun dilaksanakan. Dan ditemukan tanah yang strategis yaitu Ungaran. Dan pada tahun 1954, rumah mulai dibangun. Rumah yang dimaksud adalah biara yang sekarang ini terletak di Jl. Diponegoro. Dan per 22 Juli 1955, biara Ungaran mulai ditempati. Para suster dan anak-anak yatim piatu pindah dari Ambarawa ke Ungaran. Dalam perjalanan waktu, Biara AK Ungaran ini berkembang pesat. Mereka mendirikan TK, SD, SMP, Rumah Bersalin, Panti Asuhan, Novisiat, dan Rumah Pimpinan Umum. Kehadiran tarekat ini amat dirasakan manfaatnya oleh umat maupun masyarakat Ungaran. Banyak umat Ungaran merasa bahagia, merasa dikembangkan imannya oleh pelayanan tarekat suster AK ini. Rumah di Ungaran menjadi berkat tidak hanya bagi umat Katolik namun juga untuk masyarakat yang lain. Paroki Kristus Raja dan Tarekat Abdi Kristus telah bekerja sama secara erat dalam pengembangan berbagai karya pastoral sebab keduanya mempunyai spiritualitas yang sama yaitu mengabdi pada Kristus. Semuanya, baik umat paroki maupun para suster AK, sama-sama merupakan abdi Kristus Raja.

Karya-karya pendidikan baik yang dikelola Yayasan Kanisius maupun Santa Maria menjadi ujung tombak pewartaan kekatolikan. Melalui sekolah, banyak orang mengenal dan dengan kehendak sendiri menjadi katolik.

Seiring dengan adanya romo yang mulai menetap di Ungaran pada tahun 1959, Gereja Ungaran semakin mekar. Romo pertama yang menetap di Ungaran adalah Romo A. Spekle SJ. Pada tahun 1961 estafet penggembalaan umat Ungaran diserahkan dari Ordo Serikat Jesus kepada kongregasi MSF. Ordo Serikat Jesus tidak lagi berkarya di Ungaran. Alasannya karena waktu itu kongregasi MSF membuka Novisiat di Ungaran. Novisiat bernama “Wisma Bethania” di Gowongan. Romo MSF pertama yang berkarya di Ungaran adalah Romo D. Adisoedjono MSF. Ungaran menjadi tempat terakhir Romo D. Adisoedjono karena beliau dipanggil Tuhan di Ungaran. Romo-romo MSF lainnya yang pernah berkarya adalah Romo A. Van der Valk MSF, Romo Hendrawarsito MSF, Romo M.L. Schoots MSF.

Di bawah penggembalaan romo-romo MSF tersebut, Gereja Ungaran terus bertumbuh, berkembang, dan berbuah. Romo yang perlu diangkat secara khusus yaitu Romo M.L. Schoots MSF. Jasa beliau bagi Stasi Ungaran amat banyak. Bahkan dapat dikatakan jiwa dan raganya diabdikan kepada Stasi Ungaran. Romo M.L. Schoots MSF berkarya tahun 1965-1974. Dalam tahun-tahun itu banyak peristiwa penting dapat dicatat. Pada tahun-tahun itu penambahan umat semakin besar. Dan dari antara tahun tersebut, tahun 1965 merupakan tonggak penting sejarah perkembangan Gereja Ungaran karena pada tahun itu Stasi Ungaran secara definitif ditetapkan menjadi Paroki Kristus Raja Ungaran.
Memantapkan Paroki Muda

Dalam perjalanan hidup manusia, yang disebut usia muda adalah umur 12 sampai dengan 35 tahun. Analogi dengan pembagian usia itu, sekarang akan dideskripsikan pula gerak langkah Paroki Kristus Raja Ungaran selama 35 tahun sejak kelahiran, dari tahun 1965-2000. Maka bagian ini diberi nama ‘Memantapkan Paroki Muda’.

Baptisan paling banyak terjadi pada tahun 1966-1968 sesudah G 30S PKI. Umat Katolik pada waktu itu tersebar di beberapa wilayah, yaitu Pudak Payung, Gunung Pati, Nyatnyono, Candirejo, Lerep, Susukan, Bandarja, Genuk, Keji, Sidomulyo, Kalirejo, Kalikayen, Leyangan, Kalongan, Beji, Gogik, Langensari dan Gedanganak, Sitoyo. Namun ada juga wilayah yang dulu terdapat banyak umat Katolik, sekarang tinggal sedikit karena pindah ke lain daerah atau juga ada yang pindah agama.

Romo M.L. Schoots MSF banyak berjasa dalam membina Umat Ungaran. Pada zaman beliau, pengembangan keluarga dan kaderisasi mendapat perhatian yang cukup besar. Salah satu karya pastoralnya yang dikembangkan waktu itu adalah kunjungan keluarga. Untuk membangun paguyuban umat yang hidup, paroki mengembangkan kaderisasi. Bahkan untuk kepentingan kaderisasi ini, pada tahun 1973 paroki mendirikan Youth Center di dekat SMP Kanisius Suralaya. Kekhasan lain yang terjadi pada zaman Romo Schoots adalah penggembalaan berdasarkan proses. Paroki selalu mengembangkan umat tahap demi tahap dan selalu bertitik tolak pada kemampuan setempat. Mengingat usianya yang sudah lama, Paroki juga merehab gedung gereja dan pastoran sebagai prasarana pendukung karya pastoral.

Pada tahun 1974, Romo Schoots mengalami kecelakaan di depan gereja sampai koma. Dalam keadaan masih koma tersebut, ia dibawa ke negeri Belanda untuk berobat. Selama ditinggal Romo Paroki, hanya setiap hari Minggu Paroki mendapat bantuan imam dari Paroki Girisonta untuk Perayaan Ekaristi. Pada saat ini dapat dikatakan kehidupan beriman umat terlantar. Dan selang dua tahun kemudian ada berita bahwa ternyata Romo Schoots belum bisa kembali menggembalakan Paroki Ungaran. Beliau belum kunjung sembuh dari sakitnya.

Tahun 1976 Bapa Yustinus Cardinal Darmojoewono mengutus Romo Aloysius Hantara Pr (1976-1986) untuk bertugas di Paroki Ungaran. Kehidupan umat dibangkitkan oleh Romo Hantara. Pada masa ini baru terjadi migrasi cukup besar di daerah Ungaran. Banyak orang dari luar daerah berpindah dan tinggal di wilayah Ungaran. Perumahan-perumahan mulai dibangun seperti di Sebantengan, Kuncen Baru, Perumda Gedanganak dan sebagainya. Diantara pendatang itu ada yang sudah beragama katolik dan ada yang kemudian minta dipermandikan, sehingga jumlah umat terus meningkat.

Romo Hantara berhasil membangkitkan kehangatan menggereja umat. Pada masa penggembalaannya, pengelolaan Dewan Paroki dan perhatian pada orang kecil mendapat prioritas. Pembagian lingkungan (kring I s/d X) dan pembagian tugas pamong serta organisasi yang lain mulai diperjelas, sehingga keberadaan lingkungan semakin terasa manfaatnya. Perhatian pada orang kecil terwujud nyata dalam beberapa kegiatan sosial. Kegiatan sosial tersebut antara lain bea siswa, donor darah, koperasi, gerakan sosial Serikat Sosial Santo Vincentius (SSV). Bidang pendidikan pun mendapat perhatian paroki. Paroki mendirikan TK Vincentius Pudak Payung dan SMP Santa Maria. Dengan berkembangnya TK Vincentius, paroki membeli tanah untuk pengembangan TK tersebut. Dan di lokasi tersebut didirikan Kapel Yakobus Zebedeus Pudak Payung untuk lebih melayani rohani umat. Dalam perkembangan berikutnya, dengan tumbuhnya perumahan-perumahan di Pudak Payung, jumlah umat semakin berkembang pesat. Kelompok-kelompok kategorial pada saat itu juga mulai tumbuh dan berkembang. Kelompok kategorial tersebut antara lain Legio Mariae, Woro Semedi, Serikat Sosial Santo Vincentius, Kelompok Karyawan Muda Katolik (KKMK), berkembang juga Mudika dan Wanita Katolik. Kerjasama dengan masyarakat pada masa ini juga dikembangkan. Kerjasama yang dirintis adalah membangun forum komunikasi antar umat beriman di Ungaran. Salah satu forum tersebut adalah Badan Kerjasama Antar Gereja (BKSAG).

Pada tahun 1986 Romo Hantara diganti oleh Romo Vincentius Kartasudarma Pr (1986-1989). Perhatian Romo Kartasudarma banyak pada pembangunan fisik gereja dan melanjutkan karya yang sudah berjalan. Umat mendapat kesempatan untuk mengendapkan dan mengembangkan karya-karya pastoral yang sudah ditanamkan sebelumnya. Bersama dengan Romo Karta, umat Paroki Ungaran mengadakan lagi renovasi gereja dan pastoran yang sangat mendukung kegiatan umat.
Pada tahun 1989 Romo Kartasudarma digantikan oleh Romo Antonius Tri Wahyono Pr (tahun 1989-1992). Romo Tri sering dipandang sebagai romo yang ngetren, nyentrik, dan cocok dengan situasi umat Ungaran yang mayoritas generasi muda atau berjiwa muda. Pada zaman ini, Paroki mengadakan refleksi karya-karya pastoral yang pernah terjadi. Salah satu yang menjadi kebanggaan dan diteruskan adalah perhatian pada kaum muda seperti terjadi pada zaman Romo Schoots. Maka pada zaman Romo Tri ini, Paroki amat memberi perhatian pada pendampingan generasi muda. Dalam pendewasaan kaum muda ini, dibentuklah Forum Komunikasi Siswa Katolik (FKSK). Dalam pendampingan anak, pada masa ini dimulai pemberian ‘komuni bathuk’. Selain membenahi kinerja Dewan Paroki, pada zaman ini muncul karya pastoral baru yaitu majalah Warta Ungaran (Warung), pembentukan poliklinik “Marganing Waluyo”, dan kelompok doa karismatik.

Pada tahun 1992 Romo Tri digantikan oleh Romo Fransiskus Asisi Martana Pr (1992-1994). Romo Martana membawa warna yang sangat lain bagi Paroki, khususnya dalam bidang liturgi. Beliau menginginkan umat tidak hanya berkembang dalam organisasi, tapi juga mampu menghayati nilai-nilai rohani. Maka nampak sekali pada zaman beliau, liturgi mendapat perhatian cukup besar. Pada masa ini, Paroki merehab panti imam dan altar dibuat lebih indah dan lebih luas. Untuk membangun inkulturasi, Paroki mengadakan misa dalam bahasa Jawa dan membeli seperangkat gamelan pelog dan slendro.

Pada tahun 1994 Romo Martana digantikan oleh Romo Aloysius Budyapranata Pr (1994-2000). Bersama dengan Dewan Paroki waktu itu, Romo Budyapranata mengambil prioritas bina iman dan pengembangan komunikasi yang sehat antar umat. Pada masa ini, berbagai pembinaan ditingkatkan. Pembinaan tersebut antara lain pembinaan PIA, persiapan komuni pertama, persiapan krisma, persiapan calon baptis, pembekalan guru agama, penataran pemandu Kitab Suci, pembekalan hidup keluarga (ME). Bidang Liturgi juga mendapat perhatian dengan mengajak umat untuk lebih menghayati perayaan Ekaristi sebagai sumber hidup. Untuk mendukung hal itu, maka kinerja petugas-petugas Liturgi ditingkatkan dan dibenahi meliputi putra altar, lektor, pemazmur, kor, prodiakon, dan sebagainya.

Membangun Paroki yang Zamani

Mulai tahun 2000 Romo Budya digantikan oleh Romo Stanislaus Kotska Suhartana Pr. Romo Suhartana berusaha meneruskan karya pastor-pastor Paroki yang telah mendahuluinya berkarya di Ungaran. Bagi beliau, pelayanan sakramental merupakan pelayanan mutlak. Selayaknya seorang imam yang bertugas di Paroki, tidak akan ada artinya apa-apa tanpa kebersamaan dengan umat. Dengan semangat kebersamaan dalam Dewan Paroki, Pengurus Lingkungan dan juga kelompok-kelompok kategorial, Romo Suhartana membangun kebersamaan dalam hidup menggereja. Kebersamaan dengan umat inilah yang akan mewujudkan Gereja sebagai ”Pasamuan Suci” ditengah-tengah masyarakat (bdk. Kis 2:43-47 dan Kis 4:32). Semua umat tanpa kecuali mempunyai peran masing-masing sesuai dengan panggilannya. Semua bertanggungjawab tak seorangpun terasingkan, namun tetap dalam satu ’tubuh’ dengan Kristus sendiri sebagai kepalanya (bdk. 1Kor 12:12 dst).

Semangat dan jiwa kebersamaan inilah yang membangkitkan umat Ungaran untuk membangun ”rumah kedua”. Melihat bangunan fisik Gereja Kristus Raja Ungaran sudah sangat memprihatinkan sehingga hidup menggereja dan pelayanan ibadah tidak terdukung dengan baik dan tidak menampung jumlah umat karena pertambahannya yang cukup signifikan, pada tanggal 21 November 2004 bertepatan dengan pesta nama pelindung Paroki, yaitu Kristus Raja, dimulailah pembangunan prasarana-prasarana di kompleks Paroki. Pembangunan tahap pertama difokuskan pada pembangunan pastoran. Keberhasilan membangun pastoran melipatgandakan semangat umat untuk mewujudkan rumah kedua, yaitu gereja. Pembangunan gereja ini disebut sebagi pembangunan tahap kedua. Akhirnya pembangunan gereja, yang dinilai sementara orang merupakan gereja yang megah, dan pula disebut oleh beberapa orang dengan nama baru ‘gereja gedhe” diberkati oleh Bapa Uskup Agung Semarang, Mgr. I. Suharyo dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Drs. H. Ali Mufidz, MPA pada tanggal 24 Mei 2008. Pembangunan tahap ke tiga adalah pembangunan ruangan-ruangan serba guna dan menara. Pembangunan tahap ke tiga masih berjalan sampai sekarang ini.

Selain pembangunan fisik, pembangunan solidaritas kepada mereka yang kecil pada masa ini juga mendapat perhatian. Solidaritas ini diwujudkan dengan mengadakan Tabungan Cinta Kasih. Pada masa ini pula, jumlah umat meningkat. Pada tahun 1996 jumlah umat sebanyak 3.411 jiwa, 2003 jumlah umat sebanyak 4.424 jiwa. Jadi rata-rata pertambahan umat per tahun 145 jiwa atau 4%.

Selama ini romo yang ditugaskan untuk menggembalakan Paroki Ungaran hanya satu romo. Mulai 1 Agustus 2006, Mgr. Ig. Suharyo, Bapa Uskup Agung Semarang menugaskan Romo Laurentius Bondan Pujadi Pr menjadi pastor pembantu di Paroki Ungaran. Dan mulai tanggal 15 Juli 2009 Romo Bondan digantikan oleh Romo Paulus Supriya Pr yang sebelumnya selama 6 tahun menjadi formator bagi calon imam di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang.

Pelayanan pastoral teritorial dilaksanakan sejak tahun 1974 secara lebih intensif. Pada tahun itu pengelompokan teritorial menggunakan nama Kring. Ada 10 Kring yaitu Kring I Mijen, II Gowongan, III Genuk, IV Sembungan, V Ngablak, VI Karanganyar, VII Kuncen, VIII Bandarjo, IX Suwakul/Tarubudaya, dan X Pudak Payung. Dalam perjalanan waktu nama Kring diubah menjadi Lingkungan dan setiap Lingkungan mempunyai nama pelindung orang kudus. Ada 26 Lingkungan, yaitu Lingkungan Santo Thomas, Santo Lukas, Santo Ignatius, Santo Simon Zelot, Santo Petrus, Santo Paulus, Santo Mateus, Santo Markus, Santo Yohanes Rasul, Santo Yohanes Pemandi, Santo Stephanus, Santo Bartolomeus, Emmanuel, Santo Andreas, Santo Matias, Santo Philipus, Santo Timotius, Santo Yakobus Alfeus, Santo Yusuf, Santa Maria, Santa Maria Fatima, Santo Bonaventura, Santo Barnabas, Santa Maria Immaculata, Santa Regina Pacis, Santa Maria Mediatrix.

Kekhasan Paroki Kristus Raja Ungaran adalah terletak di ibukota Kabupaten Semarang. Di pusat pemerintahan ini pula hadir berbagai macam suku, budaya, dan agama. Hal ini semakin dipertajam dengan banyaknya perumahan dan pabrik yang dibangun di kawasan Ungaran. Banyak orang, khususnya kaum terpelajar, ber’migrasi’ ke Ungaran. Kehadiran mereka tidak hanya secara fisik, namun juga membawa berbagai macam latar belakang. Hal ini juga mendorong berkembangnya perekonomian. Kekhasan tersebut membutuhkan bentuk karya pastoral tersendiri. Beberapa bentuk karya pastoral yang bisa diusahakan antara lain dialog atau kerja sama baik dengan pemerintah maupun berbagai macam agama atau golongan, perhatian pada pewartaan agar iman umat semakin dewasa dan siap berinteraksi perlu mendapat perhatian, kelestarian lingkungan hidup yang telah banyak mengalami kerusakan tidak bisa dipandang sepele, paguyuban umat yang terwujud dalam perilaku solider antara satu umat dengan umat yang lain perlu terus diperjuangkan entah dalam pengembangan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, maupun pendidikan.

Menjawab tantangan pastoral seperti itu, ke depan Paroki Ungaran kiranya perlu terus berbenah untuk menegaskan langkah. Pilihan karya pastoral yang dapat membantu Paroki Ungaran tetap mampu bergerak maju, merupakan pekerjaan rumah yang harus ditegaskan bersama.



Tim PPDP: Rm. Priya, Bp. Dikir, Bp. Pardiman, Ibu Niniek, Ibu Wiwik, Bp. Mul, Bp. Purbo

8 komentar:

WKRI Ungaran mengatakan...

Bravo!
Blog sudah mulai diaktifkan lagi?
Ayoooo, keburu kiamat 2012 ....

handycraft and furniture classic mengatakan...

Selamat, Komsos Par Ungaran!
Ayo buka link en buku tamu, biar rame en gayeng(pong) ....

WKRI Ungaran mengatakan...

Wah, wajah baru? Canteeek yo!
Diisi lapak yang kosong pak, jangan kelamaan, ntar jadi rumah hantu kayak yang dulu.
Bravo, bagus dech ....

GKristusRaja mengatakan...

terima kasih dukungannya, lagi belajar nich jadi agak kesrimpet-srimpet.

smk kanisius mengatakan...

Profesiat....Gereja Kristus Raja

editorbuku mengatakan...

Kisah tentang kesederhanaan Romo Martana di mata para murid, saudara, dan sahabatnya dapat dibaca dan diunduh di di sini .

Inquam mengatakan...

Salam Damai Sejahtera bagi kita sekalian
Bersama ini kami hendak memperkenalkan kelahiran blog baru sebagai upaya pewartaan Kabar Gembira Yesus Kristus dan sebagai Pemersatu Umat Gereja Yang Kudus, Katolik, dan Apostolik.
Silakan mengunjungi http://terang-jiwa.blogspot.com dan http://peneduh-batin.blogspot.com

GKristusRaja mengatakan...

Sip. Nyuwun pangestu